
Disaat klub-klub diarahkan untuk segera meninggalkan pengunaan dana APBD, beberapa klub malah menggunakan uang rakyat itu untuk jor- joran mengontrak pemain dengan harga mahal. Padahal kualitas mereka patut dipertanyakan. Ironis.
MENJELANG bergulirnya musim baru, klub-klub berlomba mendapatkan pemain yang lebih baik. Harapannya, mereka bisa meraih prestasi yang lebih baik juga. Untuk mendapatkan pemain bagus, konsekwensinya klub harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Persiba Balikpapan dan Persija Jakarta yang musim lalu hanya finis di posisi ketiga dan kelima, sementara ini menjadi klub yang “ugal-ugalan” dalam membayar pemain baru.
Bulan lalu Persiba mengontrak top scorer ISL musim 2009/2010 (bersama Bontang FC) Aldo Baretto dengan harga kisaran Rp 1,35 miliar. Angka yang sama dikeluarkan Persija untuk mendatangkan kembali mantan pemainnya dari liga divisi III Portugal Olhanense, Greg Nwokolo. Tapi dari nilai itu, Rp 250 juta akan diberikan kepada Olhanense sebagai kompensasi kepindahan Greg ke Persija.
Sebab, pemain asal Nigeria itu kontraknya belum habis. "Semoga dengan kehadiran Aldo Persiba bisa meraih prestasi lebih baik dibanding tahun lalu yang hanya menempati posisi tiga," ujar Ketua Umum Persiba, H Syahril HM Taher kepada JPNN. Klub lain yang musim ini mengeluarkan duit dalam jumah besar untuk membayar pemain adalah Sriwijaya FC (SFC).
Untuk memperpanjang kontrak Keith Kayamba Gumbs manajemen tim berjuluk Laskar Wong Kota itu merogoh kocek sekitar Rp 1,1 miliar. Sedangkan untuk mendapatkan mantan pemain PSM Makassar dan Persiba asal Korsel, Park Jung Hwang, manajemen SFC membayar sekitar Rp 1 miliar. Harga dua pemain itu masih diatas pelatih Ivan Kolev yang dibayar sekitar Rp 850 juta untuk satu musim.
Sementara Persipura, kabarnya mereka mendatangkan Zah Rahan dari SFC dengan banderol Rp 1,2 miliar. Tidak hanya pemain asing yang dibayar mahal oleh beberapa klub Indonesia. Banyak pemain dan pelatih lokal yang juga dibayar dengan harga di atas Rp 1 miliar. Striker Bambang Pamungkas misalnya, Persija masih mau membayar pemain performanya sudah mulai menurun itu dengan harga Rp 1,1 miliar.
Harga itu itu masih dibawah kontrak Bambang Pamungkas di musim 2008/2009 yang mencapai Rp 1,3 miliar. Ismed Sofyan yang sudah dijauhi timnas kabarnya juga masih dibayar Rp 1 miliar oleh Persija. Untuk mendatangkan pelatih Rahmad Darmawan Persija kabarnya juga harus merogoh kocek di kisaran yang sama.
Di Persipura, striker Boaz Solossa kabarnya juga masih mendapat bayaran diatas Rp 1 miliar untuk satu musim. Dari mana uangnya? APBD, uang rakyat!. “Kami menaikkan gaji pemain rata-rata 10 persen dari tahun lalu, ” kata Ferry Indrasjarief, asisten manajer Persija. Klub- klub itu sepertinya tidak mau mengindahkan panduan yang diberikan PT Liga Indonesia (PT LI) soal pembatasan gaji pemain Indonesia.
Sayangnya, PT LI yang membuat acuan tapi mereka sendiri yang terkesan melanggarnya. Seperti yang tanggapan yang diberikan Presdir PT LI Andi Darussaalam pekan lalu. “Kalau pembatasan dilakukan saat ini, itu malah bisa merusak pasaran harga pemain, ” ujar Andi Darussalam kepada media di sela buka bersama di kediamannya Klub? klub mestinya bisa belajar dari apa yang terjadi dengan Persisam Samarinda musim lalu.
Di awal musim Persisam yang baru saja promosi dari divisi utama membuat gebrakan dengan dengan merekrut pemain bintang yang harganya diatas Rp 1 miliar. Mereka antara lain Danilo Fernando, Ronald Fagundes, Tsimi Jacques Joel, dan Hamka Hamzah. Tapi hasilnya, alih-alih juara, Persisam hanya bisa finis di posisi bawah. Pemain mahal bukan jaminan bisa meraih prestasi.
Support By : Balikpapaner's Balistik Crew's
0 komentar:
Posting Komentar