Di Balik Inkonsistensi Prestasi Persiba
TANGGAL 30 Mei 2010 menjadi hari bersejarah bagi Persiba. Hari itu, Persiba Balikpapan yang bertanding di laga terakhir Djarum Indonesia Super League (Djarum ISL) 2009-2010 menahan imbang Sriwijaya FC, 3-3. Bukan itu saja arti tambahan satu angka, namun bagi tim yang lahir di tahun 1950 itu untuk kali pertama menduduki tempat prestisius di kancah sepak bola Indonesia.
Peringkat ke-3 adalah pencapaian paling baik dari klub yang menjadikan Beruang Madu sebagai ikon kebanggaan.
Seakan tidak mau dicap prestasi itu sebagai “kebetulan”, Persiba langsung tancap gas begitu musim kompetisi musim lalu kelar. Persiapan matang. Begitu yang terpikirkan dalam rencana manajemen klub menyongsong musim baru tiba, yang baru akan digulirkan 4 bulan setelah hari bersejarah itu.
Ternyata langkah perdana yang dilakukan adalah menjaring calon pembesut tim. Nama Junaidi dipilih, karena saat itu, pria yang juga pernah berseragam Persiba tatkala menjadi pemain, dinilai sukses mengangkat derajat Persijap dari tim antahberantah menjadi tim yang disegani. Dengan modal minim, di klub yang berbasis di kawasan pantai utara Jawa Tengah itu, Bang Jun, mampu membawa Persijap finish di peringkat ke-9 klasemen akhir musim lalu, dan membuat manajemen Persiba mematenkan namanya jadi pengganti duet Hariyadi-Daniel Roekito di kursi pelatih.
Keyakinan tinggi diusung. Semangat membangun “Generasi Bintang” slogan yang diusung Persiba pada musim 2009, kembali dilanjutkan. Gengsi daerah dipertaruhkan karena dengan alasan memaksimalkan potensi lokal, manajemen klub berkebijakan memanggil potensi-potensi Balikpapan untuk jadi pengusung kekuatan. Diawali dari pelatih, dan berlanjut ke pemain.
Namun di sinilah mulai terlihat “sentuhan yang salah” dari manajemen tim. Dengan berbagai alasan, terutama soal permintaan dari beberapa pemain pilar musim lalu yang ingin adanya peningkatan nilai kontrak, manajemen memberikan sikap kaku pada upaya mempertahankan pemain yang dianggap membandel.
Pendukung mulai mempertanyakan sikap Persiba yang membiarkan pemain-pemain bertalenta seperti Fery Ariawan, Hendro Siswanto, atau Anam Syahrul meninggalkan klub dan mencari pelabuhan baru. Benar, Junaidi diberikan keleluasaan memilih calon pasukannya. Tapi, negosiasi harga dan penentuan perekrutan pemain tetap ada di tangan manajemen klub.
Apakah Persiba seolah kacang yang lupa kulitnya? Atau justru sebaliknya? Semuanya enggan berpolemik, hanya satu yang diyakini: the show must go on.
Bang Jun pun akhirnya tak ragu untuk menyusun “kekuatan baru” yang sebenarnya menggabungkan pemain lawas Persiba dengan talenta-talenta yang “sudah jadi” dari kompetisi ISL. Aco Rusdiansyah yang asli Balikpapan, Trias Budi, M Bachtiar, dan Aldo Barreto didatangkan dari klub tetangga, Bontang FC.
Erik Setiawan, Eka Santika, Asri Akbar serta Khairul Amri adalah nama-nama pemain yang baru pertama menjalin kerja sama dengan Bang Jun. Namun ia bisa dipastikan tidak kikuk lagi dengan gaya anak didiknya di Persijap, Dony F Siregar, Eki Nurhakim dan Ahmad Mahrus Bachtiar.
Itu ternyata adalah nama-nama alternatif karena manajemen gagal mendatangkan pemain incaran. Perombakan besar yang direncanakan pada awal musim ternyata akan melibatkan sedikitnya 30 persen pemain yang berada di bawah pengawasan tim nasional.
Semisal Nova Ariyanto, Maman Abdurahman, Markus Horison, M Ridwan hingga M Roby. Tapi semua pendekatan tak membuahkan hasil. Jadilah tim Persiba yang sekarang, dengan gembar-gembor akan mampu mempertahankan prestasi musim lalu, atau bahkan mampu melampauinya.
Tapi test case yang dilakukan di Inter Island Cup (IIC) tidak berhasil. Persiba hanya menjadi kontestan yang meski di laga perdana berhasil mengejutkan Sriwijaya FC, tuan rumah di Palembang, tapi di pertandingan selanjutnya justru keok dari Persib Bandung.
Inkonsistensi hasil pertama pasukan Junaidi. Alasan kala itu, fisik pemain drop karena tidak memiliki istirahat memadai, dan fisik pemain rata-rata terkuras karena menjalankan ibadah puasa. Persiba gagal menunjukkan kelasnya di ajang itu.
Hingga akhirnya kompetisi resmi digelar, tantangan perdana sebenarnya mampu dilalui saat tandang ke kandang Persibo dan Persijap. Dua kali imbang memberikan harapan besar Persiiba akan berprestasi tinggi di ISL. Tapi, itu tidak berlanjut saat memainkan laga kandang.
Memang kemenangan berhasil diraih atas Pelita Jaya, tapi itu tidak dengan permainan “kelas Persiba”. Setelah dua hasil buruk di Bandung dan Palembang, penampilan lebih buruk ditampilkan saat meladeni Bontang FC. Andai saja tak mendapat penalti di menit terakhir perpanjangan waktu, BFC bisa saja pulang dengan kemenangan perdana dari lawatannya ke Balikpapan. Tapi laga itu akhirnya berkedudukan 1-1.
Persiba baru sedikit sembuh saat meladeni Persisam. Menang 2-0, ditambah dengan semangat juang tinggi, memberikan jaminan aman bagi Junaidi yang sebelumnya ingin mundur dari jabatannya. Tapi, terpaan angin kembali mengencang saat tidak mendapat hasil apapun dari lawatan ke Lamongan dan Sidoarjo.
Grade Persiba kembali naik saat menjamu Persiwa. Menang besar 4-0, dengan permainan memikat, kembali menyelamatkan Junaidi. Tapi, lagi-lagi inkonsistensi ditunjukkan saat Semen Padang giliran bertandang. Hasil imbang 1-1 dinilai banyak kalangan jadi kesempatan terakhir bagi Junaidi.
Persiba kini punya waktu panjang, hingga 9 Januari untuk pembenahan.
Dengan hasil jeblok, karena sudah memainkan 11 laga dan hanya meraih 13 angka, apakah memaksakan jika harus ada peracik kekuatan baru? Karena pada dasarnya, tanggung jawab soal strategi sepenuhnya ada di tangan pelatih, begitu tulisan yang banyak masuk ke redaksi media ini, yang dikirim melalui pesan singkat.
0 komentar:
Posting Komentar