Kekalahan 0-3 dari Persija Jakarta, Kamis (23/12) kemarin, pantas dijadikan peringatan akan potensi bahaya saat kembali menjalani kompetisi Djarum Indonesia Super League (Djarum ISL).
Memang Persiba baru akan menjalani lanjutan kompetisi pada 9 Januari tahun depan kala menjamu Persipura Jayapura di Balikpapan. Tapi jika kesempatan yang ada tidak dimaksimalkan, bukan tidak mungkin hasil buruk akan kembali diraih seperti kala menjamu Semen Padang, bulan lalu yang berakhir dengan skor 1-1.
Kemarin sore, Persija terlihat dominan kala bertemu di Stadion Datu Adil Tarakan. Anak-anak ibu kota mampu unggul saat di menit pertama pertandingan lewat Oliver Makour. Persija menggandakan keunggulan lewat Greg Nwokolo di menit ke-56, dan satu gol lagi dipersembahkan Aliyudin sepuluh menit sebelum bubaran.
Pelatih Persiba, Junaidi mengaku pemainnya kurang percaya diri saat menguasai bola. Selain itu, Junaidi juga menilai anak asuhnya kurang berimprovisasi. “Pemain kurang percaya diri. Saat menguasai bola, hanya dua sentuhan sudah kebingungan,” ujar Bang Jun—sapaan akrab Junaidi.
“Pemain terlalu lama membiarkan bola di kaki sehingga mudah dirampas lawan. Kurang tanggung jawab. Saya belum melihat hasil latihan selama 10 hari, dan semuanya jadi sia-sia,” tegas Bang Jun.
Selain faktor di dalam lapangan, konsentrasi pemain Persiba juga dinilai buyar akibat terganggu lamanya pemain menunggu di lapangan hingga 30 menit. Sesuai technical meeting, pertandingan akan dilaksanakan pukul 15.30 Wita, dan pemain Persiba sudah pemanasan di lapangan sejak pukul 14.45 Wita. Ternyata, pertandingan baru dilaksanakan pukul 16.00 Wita.
“Pemanasan hanya 20 menit, tapi anak-anak harus menunggu hampir satu jam. Jelas ini, bisa saja membuyarkan konsentrasi mereka,” ujar Manajer Jamal Al Rasyid.
Persija sendiri tiba di lapangan tepat pukul 15.30 Wita, dan bertepatan dengan masa sebelum kick off. “Kami bukan mau mencari kambing hitam. Tapi ini memang membuat konsentrasi pemain buyar,” tutur Jamal.
Sementara itu pelatih Persija Rahmad Darmawan mengakui kemenangan besar anak asuhnya karena disiplin tinggi, serta berjalannya skema yang diinstruksikan.
“Pemain bisa menunjukkan tingkat disiplin yang tinggi. Variasi serangan juga cukup baik,” ujar Rahmad. “Tapi ini bukan gambaran sepenuhnya dari penampilan kami. Karena saat bermain di ISL, banyak faktor menentukan jalannya pertandingan,” imbuh RD ---sapaan akrab Rahmad Darmawan. (is)

0 komentar:
Posting Komentar