BALIKPAPAN – Liga Primer Indonesia (LPI) yang merupakan kompetisi tandingan Djarum-Indonesia Super League (Djarum-ISL), ternyata diprediksi tidak akan bertahan lama. Keberadaan Konsorsium yang menalangi masalah keuangan LPI ternyata dipandang tidak akan sanggup menjalankan kompetisi dalam jangka waktu panjang. Pesimisme itu muncul dari Persiba Balikpapan.
Ketua Umum Persiba, Syahril HM Taher kemarin sore di Stadion Persiba mengatakan, hingga kini tidak ada jaminan LPI yang baru digulirkan Sabtu (8/1) lalu akan bertahan lama. Ia menilai sokongan dana dari konsorsium tidak bersifat langgeng. “Seberapa besar dana yang mereka siapkan. Saya tidak melihat LPI akan bertahan lama,” ujarnya. “Sebenarnya kalau memang ada jaminan pendanaan, dan kontrak yang jelas dari LPI, mungkin kami akan langsung menerima tawaran mereka,” imbuhnya.
Apa yang diutarakan Syahril merujuk pada pertemuan di Semarang beberapa bulan lalu sebelum LPI di-launching. Kala itu Persiba mendapatkan undangan dari LPI dan menghadiri pertemuan. Namun perwakilan Persiba tidak menemukan adanya jaminan yang akan membuat keuangan klub sehat. Apalagi dengan keberadaan konsorsium di belakang LPI, menurut Syahril, justru akan menjadi semacam bom waktu bagi klub. Pasalnya dengan sistem seperti itu, nantinya akan ada intervensi kepada klub untuk pengembalian dana yang diberikan konsorsium di awal keikutsertaan klub.
Ia mencontohkan, seperti klub-klub Djarum-ISL yang mengundurkan diri, dan di satu saat ternyata tidak bisa mengembalikan dana dari konsorsium, maka akan terjadi take over, yang membuat klub jadi milik konsorsium.
“Ini yang bahaya. Kalau misalnya Persiba ikut, lantas di tengah jalan tak bisa meneruskan karena kesulitan dana, berarti Persiba jadi milik LPI. Padahal klub ini kan milik masyarakat Balikpapan. Inilah pertimbangan terbesar kami tidak menerima tawaran mereka,” ujar Syahril.
Selain itu, hasil pertemuan di Semarang, Persiba juga menyimpulkan klub tak akan benar-benar bisa mandiri, dan akan terus-terusan menyusu pada konsorsium. Pasalnya semua keperluan klub, mulai dari pengadaan pemain dan keperluan lain, langsung dikontrol oleh konsorsium. “Adanya kontrol seperti itu apa bisa disebut mandiri? Dan jelas klub tidak punya kebanggaan karena pengelolaan dikontrol oleh mereka (kosorsium, Red.),” tuturnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, klub hanya diberikan modal awal, tidak seperti yang dijanjikan. Misalnya tawaran kucuran dana hingga Rp 30 miliar. Ternyata itu tidak diserahkan kepada klub sepenuhnya, dan klub hanya diberikan sekitar 10 persen di awal. Sisanya, akan masuk dalam pembayaran pemain yang langsung dikucurkan konsorsium.
“Kami saat itu juga tidak diberikan draft kontrak atau butir-butir kesepakatan yang jelas. Kalau memang benar-benar mau membantu, langsung saja semua keperluan klub diserahkan kepada pengurusnya,” tutur Syahril.
“Kita lihatlah dalam tiga bulan ke depan. Tapi saya tidak yakin dengan kondisi seperti ini kompetisi akan berjalan lancar,” imbuhnya.

0 komentar:
Posting Komentar