Miliaran rupiah sudah habis
Warga Balikpapan kembali gigit jari. Harapan mereka untuk menyaksikan tim kebanggaan menjadi juara DISL (Djarum Indonesia Super League) 2010/2011 pupus sudah. Padahal, sebelum kompetisi bergulir, manajemen menargetkan juara.
Ini sangat ironis, mengingat miliaran rupiah uang rakyat melalui APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) sudah digelontorkan. Untuk mencapai ambisi manajemen, Persiba mendatangkan Aldo Barreto, topskor DISL 2009/2010. Guna mendapatkan pemain asal Paraguay yang sebelumnya bermain bersama Bontang FC, manajemen merogoh kocek sebesar Rp 1,3 miliar. Fantastis. Ini adalah rekor termahal di blantika DISL.
Belum puas mendapatkan Aldo, manajemen mendatangkan pilar Timnas Singapura, Khairul Amri. Mantan pemain Tampines Rovers Singapura ini dihargai Rp 900 juta.
Sayang, kehadiran Aldo dan Amri tak mampu mengangkat performa tim, setidaknya sampai putaran pertama berakhir. Amri bahkan sering diparkir di bangku cadangan, lantaran cedera. Saat ini, Persiba terkapar di peringkat ke-12 klasemen sementara dan hanya mampu mengantongi 18 poin dari 15 kali laga.
Di samping kedua legiun asing ini, Persiba juga menunjuk Junaidi sebagai pelatih. Tapi, sebelum berakhirnya putaran pertama, mantan pelatih Persijap Jepara itu memilih hengkang. Posisi Bang Jun digantikan asistennya, Hariyadi. Ini bukan kali pertama Hariyadi naik pangkat dengan cara seperti itu. Sebelumnya, takkala Daniel Roekito memilih mundur sebagai pelatih, manajemen juga mendapuk Hariyadi.
Ketua Umum Persiba, Syahril Tahir, mengatakan Persiba sudah melupakan target juara. Persaingan di papan klasemen membuat Syahril realistis.
"Kami melupakan target juara," kata Syahril kepada SUPERSOCCER di Jakarta kemarin.
Menurut Syahril, Persiba kini mengincar papan tengah atau syukur-syukur bisa finish di lima besar.(Supersoccer)
Warga Balikpapan kembali gigit jari. Harapan mereka untuk menyaksikan tim kebanggaan menjadi juara DISL (Djarum Indonesia Super League) 2010/2011 pupus sudah. Padahal, sebelum kompetisi bergulir, manajemen menargetkan juara.
Ini sangat ironis, mengingat miliaran rupiah uang rakyat melalui APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) sudah digelontorkan. Untuk mencapai ambisi manajemen, Persiba mendatangkan Aldo Barreto, topskor DISL 2009/2010. Guna mendapatkan pemain asal Paraguay yang sebelumnya bermain bersama Bontang FC, manajemen merogoh kocek sebesar Rp 1,3 miliar. Fantastis. Ini adalah rekor termahal di blantika DISL.
Belum puas mendapatkan Aldo, manajemen mendatangkan pilar Timnas Singapura, Khairul Amri. Mantan pemain Tampines Rovers Singapura ini dihargai Rp 900 juta.
Sayang, kehadiran Aldo dan Amri tak mampu mengangkat performa tim, setidaknya sampai putaran pertama berakhir. Amri bahkan sering diparkir di bangku cadangan, lantaran cedera. Saat ini, Persiba terkapar di peringkat ke-12 klasemen sementara dan hanya mampu mengantongi 18 poin dari 15 kali laga.
Di samping kedua legiun asing ini, Persiba juga menunjuk Junaidi sebagai pelatih. Tapi, sebelum berakhirnya putaran pertama, mantan pelatih Persijap Jepara itu memilih hengkang. Posisi Bang Jun digantikan asistennya, Hariyadi. Ini bukan kali pertama Hariyadi naik pangkat dengan cara seperti itu. Sebelumnya, takkala Daniel Roekito memilih mundur sebagai pelatih, manajemen juga mendapuk Hariyadi.
Ketua Umum Persiba, Syahril Tahir, mengatakan Persiba sudah melupakan target juara. Persaingan di papan klasemen membuat Syahril realistis.
"Kami melupakan target juara," kata Syahril kepada SUPERSOCCER di Jakarta kemarin.
Menurut Syahril, Persiba kini mengincar papan tengah atau syukur-syukur bisa finish di lima besar.(Supersoccer)

0 komentar:
Posting Komentar