BALIKPAPAN– Sejumlah pengurus klub sepakbola di Indonesia termasuk Persiba Balikpapan belum bisa merencanakan perpanjangan kontrak pemain yang akan dipertahankan untuk kompetisi 2010/2011, karena kondisi kepengurusan PSSI pusat belum jelas pasca habisnya masa kepengurusan PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid tersebut. Pasalnya, bisa saja regulasi baru untuk kompetisi akan dikeluarkan oleh kepengurusan PSSI yang baru.
“Semua pengurus klub di Indonesia belum berani memperpanjang kontrak pemain yang memiliki kontribusi positif terhadap klub, termasuk Persiba,”
kata Manajer Persiba Ir.Jamal Al Rasyid kepada Balikpapan Pos, Sabtu (14/5) kemarin.
Jamal mengaku, pihaknya belum berani merencanakan perpanjangan kontrak karena ada kemungkinan terjadi perubahan regulasi terhadap kontrak pemain termasuk kuota pemain asing. “Regulasi pengurus lama dan baru belum tentu sama jadi kami masih menunggu hasil pelaksanaan Kongres Pemilihan Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Anggota Komite Eksekutif PSSI periode 2011-2015 yang akan berlangsung pada 20 Mei mendatang,”terang Jamal.
Menurut Jamal, informasi dari PT Liga Indonesia (PT LI), ada beberapa regulasi yang bakal berubah diantaranya kuota pemain asing, kontrak pemain minimal, pendanaan, usia kompetisi pemain junior ISL, serta berbagai regulasi infrastruktur.
“Saat manajer meeting di Jakarta beberapa waktu lalu ada wacana kuota pemain asing tetap lima. Kalau saat ini tiga pemain asing berasal dari luar Asia, nah pada musim kompetisi 2011/2012 tiga pemain asing kemungkinan berasal dari Asia, sedangkan sisanya berasal dari Amerika, Eropa, dan Afrika,” jelasnya.
Selain itu, kata Jamal, dibicarakan juga tentang pendanaan untuk klub yang masih bergantung kepada APBD sehingga ditakutkan jika dana APBD tidak boleh lagi digunakan untuk biaya kompetisi klub sepak bola. “Ada yang mengusulkan agar pemerintah tidak melarang penggunaan dana APBD untuk membiayai klub sepakbola.
Ya mungkin kalau memang pemerintah ingin melarang penggunaan dana APBD, tapi dilakukan secara bertahap, jadi jangan dihapuskan sama sekali. Bisa saja kompetisi tahun ini dibantu Rp.17 miliar, kemudian tahun depan Rp.12 miliar, dan seterusnya hingga klubnya bisa mandiri,”ujar Jamal.
Untuk saat ini kata Jamal, sebagian besar klub sepakbola di Indonesia masih bergantung pada dana APBD. Ia mencontohkan Arema Malang yang telah mencoba mengikuti kompetisi tanpa APBD, tapi pada akhirnya tetap kekurangan dana. “Tapi kita tunggu saja hasil keputusan dalam kongres PSSI. Soalnya kami pengurus klub hanya mengikuti apa yang diputuskan PSSI Pusat,”pungkasnya.(vie)

0 komentar:
Posting Komentar